Thursday, January 05, 2006

Abidin's Site

Monday, October 31, 2005

Idul Fitri

Friday, October 28, 2005

Puasa


Lebih Nikmat dengan Berbagi
Oleh: Bayu Gawtama19/10/2005 07:39 WIB

Ia membiarkan putrinya tidur di pangkuannya, matanya menerawang memperhatikan mobil-mobil truk mau pun pick up yang membawa sayur-sayuran.
Pukul 01.15 dini hari itu, Mbok Dariah, berkutat dengan hawa dingin terminal yang setiap dini hari berubah menjadi pasar kaget. Sebentar ia berlari meninggalkan putrinya yang terlelap untuk mengejar tumpukan sayur di truk atau mobil pick up, seketika, karung besar berisi sayur atau cabai sudah berada di pinggangnya. Setiap hari ia lakukan itu dengan membawa serta putri bungsunya yang masih berusia empat tahun. Sang putri, tentu tak pernah mengerti mengapa ibunya rela melakoni pekerjaan itu, memerangi kantuk, berselimut udara malam yang dingin, kemudian berkeringat saat dan sesudah memanggul karung. Padahal, upah yang didapat dari memanggul karung itu tak seberapa.Tidak hanya di hari-hari biasa, bahkan di bulan Ramadhan pun ia tetap menjalani pekerjaan kasarnya itu. “Justru kalau bulan puasa, lebih banyak dapat duitnya,” ujarnya singkat.



Ya, Ramadhan memang membawa berkah pula bagi seorang Dariah. Jumlah permintaan belanja masyarakat lebih tinggi, sehingga pasar malam lebih ramai. Tidak hanya dua tiga karung yang bisa terangkut olehnya, bahkan di bulan ini bisa mencapai enam karung. “Lumayan, bisa buat buka puasa,” pungung tangannya membasuh peluh di keningnya. Bagaimana dengan sahur? “Nggak mikirin sahur deh, dapatnya juga nggak seberapa. Makan satu lontong saja sudah syukur,” akunya polos. Sedikit uang yang didapatnya dini hari itu membuatnya berpikir berulang kali untuk membeli sebungkus nasi sahurnya.
Hingga akhirnya, lebih sering ia memutuskan untuk tidak makan sahur. Sedangkan untuk tiga anak lainnya di rumah, ia sudah membagi dua nasi dan lauk makanan berbuka untuk makan sahur.

Di lain tempat, Bang Wawan, tukang becak yang biasa mangkal di depan gang rumah ibu saya malah lebih sering tidak makan sahur. Menurutnya, kalau dalam sehari banyak nariknya ia bisa makan sahur bersama lima teman lainnya di satu pangkalan.
“Kalau sepi, kadang makan, kadang sebungkus berdua, tapi lebih sering nggak makan”. Ia mengaku sudah biasa tak makan sahur, meski pun ia harus tetap berpuasa saat menjalankan pekerjaannya sebagai tukang becak. Lelah, sudah pasti, tak bertenaga saat mengayuh becak, masuk akal, karena ia tak makan sahur.Itulah sebabnya, saat saya berkunjung ke rumah ibu, meski tak setiap sore, sering ada makanan berbuka dan beberapa bungkus nasi untuk tukang becak di pangkalan depan gang itu. Hampir semua warga di situ bergantian memberi makanan berbuka atau makan sahur untuk Bang Wawan dan teman-temannya.
Lalu bagaimana dengan tukang becak di pangkalan lainnya? Apakah mereka juga makan sahur? Mungkinkah warga sekitarnya cukup peduli dengan orang-orang seperti Bang Wawan? Seorang kawan bercerita, airmatanya tak henti meleleh sampai menjelang dzuhur setiap kali teringat wajah-wajah polos di panti yatim. Dini hari tadi, ketika waktu sahur ia dan beberapa teman kantornya menyambangi dua panti yatim di Jakarta dengan membawa nasi bungkus untuk makan sahur anak-anak yatim. Pengakuan pengelola pantilah yang membuatnya terus menangis, “Setiap malam saya tidak bisa tidur, mikirin apa yang bisa dimakan untuk sahur mereka.” Menatap polos mata-mata penuh harap milik anak-anak itu, hatinya makin terenyuh. Bagaimana mungkin selama ini ia bisa nikmat menyantap makan sahur dan berbukanya, sementara dini hari itu ia tahu ada banyak anak-anak yang tak punya apapun untuk dimakan.

Melihat kembali meja makan kita yang penuh sesak makanan berbuka, yang terkadang tak habis hingga makan sahur tiba. Sementara kita sudah menyiapkan makanan yang lain untuk sahur. Jadilah tempat sampah persinggahan makanan sisa berbuka. Mungkin, terlalu banyak makanan yang terjejal di mulut ini, menyesaki setiap rongga dalam perut kita. Padahal, pasti lebih nikmat jika kita membaginya.
Saat kita berpuasa, mereka juga berpuasa
Ketika tiba waktu berbuka, banyak di antara mereka yang tetap berpuasa
Waktu makan sahur, mereka menatap meja makan dan piring kosong

Tanpa berbagi, nikmatkah santapan kita?

Friday, October 21, 2005

"Desert Rose"


I dream of rain
I dream of gardens in the desert sand
I wake in pain
I dream of love as time runs through my hand

I dream of fire Those dreams are tied to a horse that will never tire
And in the flames
Her shadows play in the shape of a man's desire

This desert rose
Each of her veils, a secret promise
This desert flower
No sweet perfume ever tortured me more than this

And as she turns
This way she moves in the logic of all my dreams
This fire burnsI realize that nothing's as it seems

I dream of rain
I dream of gardens in the desert sand
I wake in pain
I dream of love as time runs through my hand

I dream of rain
I lift my gaze to empty skies above
I close my eyes
This rare perfume is the sweet intoxication of her love

I dream of rain
I dream of gardens in the desert sand
I wake in painI dream of love as time runs through my hand

Sweet desert rose
Each of her veils, a secret promise
This desert flower
No sweet perfume ever tortured me more than this

Sweet desert rose
This memory of Eden haunts us all
This desert flower
This rare perfume, is the sweet intoxication of the fall

Monday, October 17, 2005

nature

somewhere in Aceh, after tsumani, Desember 26th, 2004

Nature teaches more than she preaches. There are no sermons in stones.
It is easier to get a spark out of a stone than a moral.
( John Burroughs, 1837 - 1921 )

Sunday, October 16, 2005

It's not motorcycle, it's.....


Men may change their climate, but they cannot change their nature.

A man that goes out a fool cannot ride or sail himself into common sense.

( Joseph Addison, 1672 - 1719 )

"Namaku Agam"







“Negeriku adalah sebuah puisi yang gundah,
dikhianati masa lalu dan semua masa depan
Negeriku adalah nyanyian yang gamang

Mencari kata-kata diantara kebisuan kemanusiaan
Namaku Agam namaku Inong
Bagai anjing kami diburu
Karena sejarah yang kehilangan arah
Karena tangan kami lemah

Kami lari ke gunung dimangsa binatang
Kami lari ke kota dimangsa kebinatangan

Aku ingin mengembara di negeri-negeri asing
Mencari nama dan alamat rumah kami yang hilang
Terbakar diantara sejarah yang sungsang“
(“Namaku Agam” – Puisi Jhon, putra Acheh asal Gayo)

Hujan


So...it's night, saturday night...
hujan masih turun....meski cuma rintik-rintik, hampir seminggu ini Banda Aceh di guyur hujan, pagi, siang, malam, subuh.....
kadang-kadang dapet bonus gempa, lumayan lah buat melatih kewaspadaan....
Klo udah hujan, selalu ingat lagu November Rain - nya Gun's N Roses, cuma bedanya ini masih Oktober....
but it's ok, rain still rain, song still song......


Sunshine is delicious,
rain is refreshing,
wind braces us up,
snow is exhilarating;
there is really no such thing as bad weather,
only different kinds of good weather.
( John Ruskin, 1819 - 1900 )

Saturday, October 15, 2005

Do Do Daidi

DO DO DAIDI

Allah hai dododaidi
(ga ada arti secara harfiah atau sebenarnya, jadi semacam kita mengatakan ninabobo,oh ninabobo... )
Boh gadung bie boh kayee uteun
(Buah gadung buah-buahan dari hutan)
Raye'k sinyak hana peu ma brie
(kalau anakku besar nanti, Ibu tidak bisa memberi apa-apa)
aeb ngen keji ureung donya kheun
(aib dan keji dikatakan orang-orang)

Allah hai dododaidang
Seulayang blang ka putoh talo

(Layang-layang di sawah putus talinya)
Beurijang raye'k muda seudang
(cepatlah besar Anakku sayang & jadi seorang pemuda/ remaja)
Tajak bantu prang ta bela Nanggroe
(supaya bisa berperang membela Nanggroe= Bangsa)


Wahe aneuk bek ta duek le
(Wahai anakku, janganlah duduk & berdiam diri lagi)
Beudoh sare ta bela bangsa
(mari bangkit bersama membela bangsa)
Bek ta takot keu darah ile
(janganlah takut jika darah mengalir)
Adak pih mate po ma ka rela
(walaupun engkau mati Nak, Ibu sudah relakan)

Jak lon tateh, meujak lon tateh
(Ayo sini Nak Ibu tateh, kemarilah Nak Ibu tateh)
Beudeh hai aneuk ta jak u Aceh
(bangunlah anakku sayang, mari kita ke Aceh)
Meube bak o'n ka meube timphan
(sudah tercium bau daun timphan)
Meubee badan bak sinyak Aceh
(seperti bau badan sinyak Aceh)

Allah hai Po illa hon hak
(Allah Sang Pencipta yang Punya Kehendak)
Gampong jarak han troh lon woe
(jauhnya kampung tak tercapai untuk pulang)
Adak na bulee ulon teureubang
(andaikan punya sayap, Ibu akan terbang)
Mangat rijang troh u nanggroe
(supaya cepat sampai ke Nanggroe = Aceh)

Allah hai jak lon timang preuk
(Kemarilah Ibu timang-timang Nak)
Sayang riyeuk disipreuk pante'
(sayangnya ombak memecah pantai)
O'h rayek sinyak yang puteh meupreuk
(kalau sinyak yang berkulit putih udah besar)
Teh sinaleuk gata boh hate'
(dimanakah engkau akan berada nanti buah hatiku)
Cut Aja Rizka
Youth is the gift of nature, but age is a work of art.
( Stanislaw Lec )

Mata


Sumber: Bahagia, ada pada Jiwa yang Bisa Bersyukur oleh Lianny Hendranata

Pernah membayangkan, bagaimana seseorang menulis buku, bukan dengan tanganatau anggota tubuh lainnya, tetapi dengan kedipan kelopak matakirinya? JikaAnda mengatakan itu hal yang mustahil untuk dilakukan, tentu saja. Anda belum mengenal orang yang bernama Jean-Dominique Bauby. Dia pemimpin redaksi majalah Elle, majalah kebanggaan Prancis yang digandrungi wanita seluruh dunia.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk tetapmenulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan. Setelah tahu apa yang dialamisi Jeandalam menempuh hidup ini, pasti Anda akan berpikir, "Berapapun problem dan stres dan beban hidup kita semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan si Jean!"

Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Iamengalami apa yang disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total yangdisebutnya "Seperti pikiran di dalam botol". Memang ia masih dapatberpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi itulah cara dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan teman-temannyanya.

Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat, teman-temannya)menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. "Bukan main !!" . Ya, itu juga reaksi semua yang membaca kisahnya. Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh"menulis" dengan cara si Jean, barang kali kita harus menangis dulu berhari-hari dan bukan buku yang jadi, tapi mungkin meminta ampun untuk tidak disuruh melakukan apa yang dilakukan Jean dalam pembuatan bukunya.Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnyayang ditulisnya secara sangat istimewa. Judulnya, "Le Scaphandre" et lePapillon (The Bubble and the Butterfly). Jean adalah contoh orang yang tidak menyerah pada nasib yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup dalam kelumpuhan dan tetap berpikir jernih untukbisa menjadi seseorang yang berguna, walau untuk menelan ludah pun, dia tidak mampu, karena seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh, tetapi yang patut kita teladani adalah bagaimana dia menyikapi situasi hidup yangdialaminya dengan baik dan tetap menjadi seorang manusia ( bahasa Sansekertayang berarti pikiran yang terkendali), bahkan bersedia berperan langsung dalam film yang mengisahkan dirinya. Jean, tetap hidup dengan bahagia dan optimistis, dengan kondisinya yang seperti sosok mayat bernapas. Sedangkan kita yang hidup tanpa punya problem seberat Jean, sering menjadi manusia yang selalu mengeluh..!

Coba ingat-ingat apa yang kita lakukan. Ketika mendapat cuaca hujan, biasanya menggerutu. Sebaliknya, mendapat cuaca panas juga menggerutu. Punya anak banyak mengeluh, tidak punya anak juga mengeluh.
Carl Jung, pernah menulis demikian: "Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan adalahmenerima diri sendiri secara utuh, dan hal yang paling sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup!" . Maka, betapapun kacaunya keadaan kita saat ini, bagi yang sedang stres berat, yang sedang berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan orang lain, atau anggota keluarga yang sedang tidak bahagia karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, yang baru mendapat musibah kecelakaan atau bencana, bagi yang sedang di-PHK, ingatlah kita masih bisa menelan ludah, masih bisa makan dan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Maka bersyukurlah,dan berbahagialah...! Jangan menjadi pengeluh, penggerutu, penuntut abadi,tapi bijaksanalah untuk bisa selalu think and thank (berpikir, kemudianberterima kasih/ bersyukur ).

Dalam artikel yang berjudul Kegagalan & Kesuksesan Hasil Konsekuensi Pikiran ( SPM 26 Februari 2005) dituliskan, seseorang yang sadar sepenuhnya, dia datang ke dunia ini hanya dibekali sebuah nyawa (jiwa). Nah, nyawa itu harus dirawat dengan menjalani kehidupan secara bertanggung jawab. Dengan nyawa ini pulalah, seseorang harus hidup bahagia, di manapun dia berada, dan dalam kondisi apapun, dia harus bisa bahagia. Kunci kebahagiaan adalah bersyukur!Mensyukuri apa yang kita dapat itu penting, termasuk sebuah nyawa agarkitabisa hidup di alam ini. Dan kebahagiaan bisa dibuat, dengan tidak meminta (menuntut) apapun pada orang lain, tetapi memberikan apa yang bisa diberikankepada orang lain agar mereka bahagia.

Jadilah seseorang yang merasa ada gunanya untuk kehidupan ini.Untuk itu, Anda bisa mendengarkan intuisi sendiri sehingga bertindak sesuai nurani dan menghasilkan apa yang Anda inginkan dalam hidup. Hadapi hidup dengan tabah karena orang-orang beruntung bukan tidak pernah gagal. Bukan tidak pernah ditolak, juga bukan tidak pernah kecewa. Justru banyak orang yang sukses itu sebetulnya orang yang telah banyak mengalami kegagalan. Berpikirlah positif, Anda akan menjadi orang yang beruntung.
Banyak cerita tentang keberuntungan berasal dari kejadian-kejadian yang tidak menguntungkan. Misalnya, kehilangan pekerjaan memunculkan ide besar untukmulai bisnis sendiri dan menjadi majikan.
Ditolak pun bisa mendatangkan kesuksesan. Tetapi, untuk mendapatkan keberuntungan diperlukan usaha.
Dan mulailah sekarang juga untuk berusaha!

Let every eye negotiate for itself and trust no agent.
( William Shakespeare, 1564 - 1616 )

Ga ada judul


Pengen menulis sesuatu dan bisa bermanfaat bagi banyak orang, seperti penulis-penulis lainnya.
Cuma sayangnya aku selalu ga bisa menulis dgn baik, masih perlu banyak balajar. Semoga aja blog ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya.
So.....Enjoy it!